PROOFREADING SEBELUM MENERBITKAN TULISAN
PERTEMUAN KE-12
JUMAT, 15 MEI 2026
NARASUMBER: SUSANTO, S. Pd.
MODERATOR: LELY SURYANI, S. Pd., SD.
Di awal pertemuan narasumber hebat mengutip pernyataan dari Dr. Much. Khoiri, seorang pendiri grup RVL-Rumah Virus Literasi mengatakan: "...selagi menulis orang harus sanggup mengedit sendiri (swasunting) karyanya".
Swasunting artinya memeriksa apakah tulisan sudah benar-benar bebas dari kesalahan? Kegiatan swasunting inilah yang disebut dengan PROOFREADING.
Lalu bagaimana kita bisa mengetahui di dalam tulisan kita ada kesalahan atau tidak?
Yang pertama dan utama adalah: kita harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang struktur kalimat dan EYD.
Kapan proofreading dilakukan?
Proofreading merupakan tahap akhir pemeriksaan tulisan. Jadi dilakukan setelah tulisan selesai. jika diminta menulis 800 kata, maka setelah pembukaan, inti, dan penutup selesai. Hal ini berbeda dari editing, karena proses editing menyentuh pada substansi dan struktur, sedangkan proofreading hanya fokus pada ejaan, tanda baca, konsistensi, dan ketepatan bahasa. Kesalahan dalam suatu tulisan seperti ejaan, tanda baca, atau ketepatan bahasa dapat merusak kredibilitas penulis secara keseluruhan.
Kalimat yang terlalu panjang akan sulit difahami oleh pembaca, maka kita bisa menyederhanakannya atau memperbaikinya dengan membuang kata yang tidak perlu, sehingga kalimatnya menjadi lebih pendek dan lebih mudah difahami.
YOAST SEO mengatakan: "Kalimat yang mudah dibaca dan difahami sekitar 20 kata saja".
Contoh:
Pada dasarnya seluruh bahan ajar yang terkumpul apabila disusun secara sesuai dengan struktur buku pelajaran dan bisa dibaca secara mandiri oleh siswa maka bahan ajar telah berubah menjadi sebuah buku yang bermanfaat di dunia pendidikan.
Tulisan tersebut dapat diperbaiki dan disederhanakan dengan membuang beberapa kata yang tidak perlu, sehingga menjadi:
Pada dasarnya seluruh bahan ajar yang terkumpul apabila disusun sesuai dengan struktur buku pelajaran bisa dibaca secara mandiri oleh siswa sebab bahan ajar telah berubah menjadi sebuah buku. Buku tersebut akhirnya bermanfaat di dunia pendidikan.
Setelah diperbaiki kalimatnya menjadi lebih enak dibaca dan lebih mudah difahami.
Bagaimana dengan penggunaan AI?
Bolehkah proofreading menggunakan AI?
Boleh-boleh saja proofreading atau bahkan editing menggunakan AI, namun ada syaratnya, yaitu sebelum menggunakan alat bantu AI (Kecerdasan buatan) kita perlu menguasai pemahaman tentang struktur kalimat dalam Bahasa Indonesia dan pungtuasi (penggunaan EYD yang tepat). Kedua hal ini mutlak diperlukan.
Sentuhan kecil dari seorang proofreader ternyata bisa memberikan dampak yang besar bagi pembaca. Maka proofeading merupakan tahap akhir yang akan memastikan tulisan kita siap dan layak dinikmati oleh pembaca.
PENUTUP
Bermanfaat sekali pertemuan ke-12 pada malam hari ini. Saya mendapatkan ilmu baru tentang proofreading yang merupakan proses membaca ulang dan memeriksa tulisan sebelum dipublikasikan atau dicetak untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan kecil pada tulisan. Ketelitian penulis dalam memeriksa kembali tulisan sangat dibutuhkan agar pembaca merasa nyaman dalam membaca dan mudah memahami kalimat demi kalimat yang dibacanya.
Komentar
Posting Komentar