REFLEKSI MAULID NABI: MENJADIKAN RASULULLAH SAW SEBAGAI TELADAN
H-8
Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Di masjid-masjid, majlis-majlis ta'lim, pengajian-pengajian lantunan shalawat, pembacaan sirah Nabi (Rawi) menyeruak di udara membawa kehangatan yang meresap hingga ke relung dada. Menyambut maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekedar memperingati sebuah tanggal dalam kalender hijriyah, melainkan merayakan terbitnya cahaya di tengah kegelapan dunia.
Kedatangan bulan maulid membawa atmosfer yang berbeda. Ketika memasuki bulan Rabiul Awal umat Islam di berbagai daerah mulai menghidupkan kembali berbagai macam kegiatan yang berkaitan dengan maulid Nabi Muhammad SAW. Ketika lantunan barzanji dan shalawat Mahallul Qiyam digemakan bersama, suasana berubah menjadi begitu magis dan mengharukan. Semua orang berdiri serentak mengatupkan tangan dan melantunkan salam penghormatan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW dengan mata berkaca-kaca. Luapan rasa syukur yang membakar hangat jiwa-jiwa yang haus akan keteladanan dan kasih sayang sang Rasul.
Nampan-nampan berisi hidangan khas, buah-buahan dan kue tradisional dihidangkan sebagai shodaqoh untuk dinikmati bersama tanpa sekat kelas atau usia. Kegembiraan menyambut maulid Nabi selalu menjadi pengingat yang indah bahwa cinta kepada Baginda Nabi muhammad SAW adalah bahan bakar yang paling efektif untuk menyatukan hati manusia.
Tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia mempunyai bentuk yang sangat beragam. Setiap daerah mempunyai cara tersendiri dan keunikan tersendiri dalam memperingatinya. Akan tetapi terdapat satu benang merah yang sama bahwa peringatan maulid merupakan bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan dalam rangka mengenang kehidupan dan perjuangan Rasulullah dalam menyampaikan risalah Islam.
Salah seorang ulama yang memberikan penjelasan cukup luas tentang Maulid adalah Sayyid Muhammad bin Alawi al Malaki al Hasani dalam kitab Haul al-Ihtifal bi Dzikri al-Maulid an Nabawi asy-Syarif. Beliau menjelaskan bahwa peringatan maulid dapat dilihat dari beberapa sisi, terutama berkaitan dengan rasa bahagia atas kelahiran rasulullah SAW., ungkapan syukur, pengenalan terhadap kehidupan Nabi, amal kebajikan serta upaya menjaga ingatan umat Islam terhadap Rasulullah SAW.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan anugerah dan nikmat besar bagi umat manusia, karena kelahirannya membawa cahaya yang menerangi kehidupan manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang penuh cahaya Ilahi. Peringatan maulid merupakan bentuk rasa gembira dan ungkapan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks ini Sayyid Malik merujuk kepada sikap Rasulullah sendiri terhadap hari kelahirannya. Hadits dari Abu Qatadah yang diriwayatkan Imam Muslim menjelaskan ketika Rasulullah SAW ditanya tentang puasa sunnah hari senin, Rasulullah SAW menjawab: "Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku".
Peringatan Maulid akan lebih bermakna ketika disertai usaha mengenal kehidupan beliau melalui pembacaan kitab maulid dan sirah Nabi atau juga melalui tausiyah yang disampaikan pada saat peringatan maulid. Melalui pembacaan shalawat, dzikir, dan mengkaji sejarah hidup beliau, umat Islam meneguhkan rasa hormat dan cinta kepada Rasulullah SAW.
Selanjutnya Sayyid Muhammad bin Alawi al Malaki al Hasani mengatakan: "Sesungguhnya peringatan maulid memuat kisah kelahiran Nabi, mukjizat-mukjizatnya, perjalanan hidupnya, serta pengenalan terhadap figur beliau".
Pengenalan terhadap figur Rasulullah SAW memiliki hubungan yang erat dengan keteladanan. Melalui peringatan maulid umat Islam kembali mengingat perjuangan dan budi pekerti Rasulullah SAW yang penuh kasih sayang, jujur dan amanah.
Dengan demikian peringatan maulid dapat menjadi momen bagi umat Islam untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan terbaik dalam kehidupan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al Ahzab/33: 21 yang berbunyi: "Sesungguhnya terdapat pada diri Rasul teladan yang baik bagimu, bagi yang mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari kemudian dan dia banyak menyebut Allah".
"Allahumma sholli `ala sayidina Muhammad, wa'ala ali sayidina Muhammad"
Komentar
Posting Komentar